XXI Short Film Festival 2016 #Review

xxi-short-film-festival-2016-poster-70x100release-01Ajang film pendek Indonesia terbesar dan juga berkualitas telah hadir kembali menyapa penonton. Di tahun ke-4 ini, terdapat 8 film pendek berbagai genre yang sudah bisa kalian tonton sejak Kamis (14/4) lalu. Akan tetapi, jatah layar yang disediakan oleh eksibitor XXI sangat minim, di Jakarta saja hanya ada di TIM XXI dan itu pun hanya ada 2 shows 😦 sedih sangeut. Ya, mau gimana lagi, belum banyak penonton yang memiliki kesadaran atau mencoba untuk menonton film alternatif lokal. Duh!

XXI Short Film Festival 2016 lebih variatif dibandingkan dengan yang tahun lalu. Pada awal film kalian akan diantar dengan Pancasonya (sutradara: Muhammad Ihsan Fadli, Jakarta). film ini memiliki sinematografi dan efek visual yang indah dengan latar waktu tahun 1965. Film ini memiliki emosi yang kuat untuk kita memahami bagaimana pentingnya keikhlasan dibandingkan dengan membalas rasa dendam. Aktor utama dalam film pendek ini berhasil menyampaikan pesan tersebut dengan baik.

Selanjutnya ialah Nilep (sutradara: Wahyu Agung Prasetyo, Yogyakarta), film ini sungguh menyenangkan dan menghibur. Film ini bercerita tentang tingkah polos keempat anak-anak dan perdebatan yang jenaka tentang pengambilan keputusan mengakui kesalahan atau lari dari permasalahan. Perdebatan yang sengit namun polos gaya “anak-anak jawa” menjadi senjata pada film ini untuk dapat dinikmati. KAPUR ADE (sutradara: Firman Widyasmara, Jakarta) satu-satunya film animasi ini sebenarnya tidak terlalu bisa saya nikmati.

KESAN PERTAMA (sutradara: M. Iskandar Tri Gunawan, Yogyakarta), saya sangat suka film dokumenter, apapun itu. Kesan Pertama adalah salah satu film pendek dokumenter terbaik yang pernah saya lihat. Film ini mampu memberikan informasi mengenai apa itu jamu cekok  dan juga manfaatnya yang pada saat ini mungkin tidak banyak diketahui masyarakat, khususnya di kota-kota besar. Melalui keluarga muda yang kedua anaknya memiliki permasalahan pada nafsu makan yang sedikit film ini memberikan alternatif bagi orangtua-orangtua lainnya untuk mencoba pengobatan tradisional jamu cekok sebagai cara untuk mengembalikan nafsu makan anaknya.

SUGIH (sutradara: Makbul Mubarak, Jakarta) adalah film yang nyeleneh yang sampai sekarang saya tidak tahu apakah ritual tersebut adalah mitos yang ada di masyarakat atau memang hanya cerita fiksi.  Kemudian SANDEKALA (sutradara: Amriy Ramadhan, Jakarta) yang dari segi sinematografi, musik, dan scorring digarap dengan apik. Cerita tentang budaya ‘waktu maghrib’ juga sangat relevan dengan keadaan sebagian masyarakat Indonesia. Lalu SEMALAM ANAK KITA PULANG (sutradara: Adi Marsono, Yogyakarta) sungguh memukau dan membuat saya berpikir bagaimana caranya mengarahkan aktor nenek tua untuk berakting senatural itu. Film ini sangat menyentuh dan menyadarkan kita tentang rasa kehilangan yang biasanya dirasakan oleh seorang manula yang tanpa sadar kita sering mengacuhkannya.

BIBI SITI SWITI (sutradara: Cynthia Natalia, Jakarta), ini dia film dokumenter tebaik dalam XXI Short Film Festival 2016. I LOVE THIS MOVIE SO MUCH! SITI YOU ARE ROCK! Ini adalah bagian favorit saya dalam film ini. Kisah hidup Bibi Siti Switi (atau seorang pembantu alay, norak, kampungan, apapun hinaan kalian untuk itu) memberikan perspektif yang baru untuk dilihat dan coba untuk dipahami. Komedi yang apa adanya dalam film ini akan membuat kalian tertawa terbahak-bahak bahkan mungkin hingga menangis. Sosok Siti yang selama ini mungkin sering ‘hanya numpang lewat’ dan tidak membuat banyak orang penasaran, padahal pemikiran-pemikiran dan prinsip yang dipegang Siti dapat menginspirasi banyak orang. Siti adalah sosok yang mandiri, realistis, bebas (MENJUNJUNG LIBERAL, BRO!), dan apa adanya dalam menjalani hidup. Oh, Siti, I can wait to your sequel movie if its heppen 🙂