Tuti Koto: A Brave Women, Perjalanan Seorang Ibu dalam Menuntut Keadilan

tuti-koko

Mami Tuti dan kedua Cucunya (Sumber: http://indonesiamatters.com)

Yani Afri

Yani Afri adalah salah satu nama dari tiga belas aktivis yang hilang di tahun 1997 dan belum ditemukan hingga sekarang. Ia berasal dari keluarga yang sederhana, sehari-hari ia bekerja sebagai supir angkot. Yani sebenarnya tidak begitu aktif dalam pergerakan kasus-kasus pembelaan HAM seperti Talangsari dan Tanjung Priok. Yani hanyalah simpatisan PDI yang pro terhadap Megawati. Sampai akhirnya pada tanggal 26 April 1997, Yani Asri yang terakhir kali terlihat di Kelapa Gading, Tanjung Priok bersama Sony tidak diketahui keberadaannya.

Tuti Koto

Usianya sudah lanjut pada saat itu, sekitar 60 tahun. Tuti Koto atau akrab disapa dengan sebutan Mami Tuti adalah ibu dari ‘Rian’ atau Yani Afri. Mami Tuti tinggal di perkampungan yang rumahnya berdiri di atas rawa-rawa di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Sejak suaminya meninggal, Rian menjadi tulang punggung dan harapan bagi keluarganya. Rian adalah anak yang gigih dalam bekerja. Namun harapan Mami Tuti seakan pupus saat mendengar kabar hilangnya Rian, anak kebanggaannya.

Perjalanan Mami Tuti

Di awal film jelas terlihat sekali kegelisahan yang tengah dirasakan oleh Mami Tuti saat pertama mengetahui kabar bahwa anaknya telah hilang. Tiga hari menjelang Pemilihan Umum tahun 1997, Rian, berada di tengah kondisi politik yang sedang memanas antara warga sipil dan pihak militer. Sejak saat itu, Mami Tuti tidak lagi bertemu dengan anak kesayangannya. Nalurinya bergerak untuk mencari tahu keberadaan Rian. Awal pencarian dimulai dari Kodim Jakarta Utara, tempat di mana Rian ditangkap, akan tetapi pihak Kodim mengatakan bahwa Rian sudah dipulangkan. Setelah itu Mami langsung melaporkan kehilangan Rian ke pihak Polisi. Tidak ada kepasrahan di benaknya, ia terus mencari dan mencari kabar anaknya.

Sampai akhirnya Mami Tuti mengadu ke YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia)  dan bertemu dengan Munir Said Thalib dan keluarga korban lainnya. Di sinilah Mami Tuti mulai bekerja sama dengan Munir untuk membuat berbagai strategi dalam mencari Rian. Mami Tuti adalah salah satu ibu dari keluarga korban lainnya yang vokal dalam menuntut kejelasan nasib 13 aktivis yang hilang. Ditemani oleh Munir pengadilan demi pengadilan serta unjuk rasa selalu Mami datangi. Tak disangka akhirnya Mama Tuti pun semakin lihai dalam berorasi, memegang megaphone hingga bernyanyi memimpin massa. Secara perlahan Mami menjadi sosok perjuangan 13 keluarga korban aktivis yang hilang.

Sepanjang film, hampir tidak terlihat goresan kelelahan dalam wajah Mami Tuti. Ia memang dikenal tidak pernah mengeluh dan sangat berani dalam setiap unjuk rasa dan pengadilan. Sering kali ia membentak, “Senang kamu, ya? Dimana anak saya!” kepada pihak militer yang menghadang. Ironis jika melihat atmosfer tiap persidangan, di dalamnya lebih banyak pihak militer dibandingkan dengan keluarga korban. Ditambah lagi dengan sorak-sorak “KOMANDO!! KOMANDO!!” yang diserukan oleh pihak militer semakin menekan keluarga korban saat persidangan.

Kemudian saat tiba di penghujung film, Mami Tuti memperlihatkan kegelisahannya yang mendalam. Ia sebenarnya sudah memiliki firasat bahwa anaknya sudah tidak ada lagi, akan tetapi ia hanya butuh kepastian untuk mengetahuinya. Mungkin dengan kejelasan kabar tersebut Mami Tuti akan lebih kuat dalam menghadapi hidupnya ke depan, pikirnya. Namun sebelum ada kepastian yang jelas dari pihak pemerintah, Mami tetap kekeh memperjuangkan haknya. Sampai akhirnya Mami Tuti berperan aktif dalam organisasi KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) ke Komnas HAM, Kejaksaan Agung, DPR, hingga Presiden untuk mencari sebuah keadilan.

Tuti Koto: A Brave Women | Tahun: 1999 | Jenis: Dokumenter Durasi: 21 menit | Sutradara: Riri Riza

 

Sumber:

Screening Film Pekan Merawat Ingatan dan Diskusi di Kinosaurus Jakarta

http://indoprogress.com/2012/11/mami-koto/

http://www.rappler.com/indonesia/104187-menolak-lupa-13-aktivis-1998-hilang

http://mugiyanto.blogspot.co.id/2012_12_01_archive.html

http://nasional.kompas.com/read/2010/09/27/21090127/polisi.tangkap.pendemo.di.depan.istana