Dilema Perayaan Waisak

vaisak

Sabtu lalu (25/05), saya beserta kawan-kawan telah berencana melihat perayaan Tri Suci Waisak 2557 BE/2013 di Candi Mendut dan Borobudur. Ini kali pertama saya melihat prosesi perayaan Waisak secara langsung. Rasa penasaran ditambah ekspetasi keindahan 1.000 lampion terbang di atas Candi Borobudur di malam harinya membuat saya semakin antusias.

Euforia pagi hari di Candi Mendut sudah terlihat jelas saat kami melihat antrian motor memanjang di depan halaman rumah-rumah warga sekitar. Warga setempat pun banyak yang menjelma menjadi tukang parkir dadakan, mereka mematok harga Rp 2.000,- per motor, Tenda-tenda rumah makan pun sangat ramai terlihat, khususnya makanan kupat tahu khas Magelang, sungguh multiplier effect yang positif.

Lain warga setempat lain pula para Bikhu dan Bikhuni, mereka memiliki alur cerita yang berbeda setiap perayaan Waisak menjelang. Keramaian para wisatawan sepertinya  sangat banyak sedikit menggangu peribadatan mereka. Padahal banyak cerita perjuangan dibalik perjalanan mereka ke tempat ini. Ada yang nekat dengan membawa uang a la kadarnya, menabung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, dan berbagai perjuangan ironis lainnya.

Sekitar jam 11.00 kami telah sampai di area Candi Mendut, wisatawan lokal maupun asing rupanya telah membanjiri area Candi, saya kira tidak seramai ini. Tentu saja kami harus sedikit berjuang demi melihat prosesi Detik-Detik Waisak. Sesampainya dekat areal peribadatan, saya hanya terdiam memperhatikan suasana sekitar. “Sepertinya ini bukanlah suatu atraksi wisata bagi wisatawan”, tutur saya dalam hati.

Ini adalah suatu ibadah. Ibadah itu biasanya khusyuk. Kalau ramai berarti…. (Hal tersebut masih terpikirkan hingga sekarang) Tidak hanya itu, para wisatawan dan fotografer dengan mudahnya mengambil gambar, walau jarak mereka dengan para Bikhu sangat dekat, tidak ada 1 meter.

Sejujurnya saya pun demikian, sampai seketika saya terdiam, teringat pemikiran saya yang sebelumnya. Ini adalah suatu ritual ibadah. Saya tidak habis pikir jikalau hal tersebut menimpa saya nantinya, ketika sedang berdoa saat malam Natal banyak jepretan kamera di sebelah saya. Tentu hal tersebut sangatlah kampret adanya.

Akhirnya Ritual Detik-Detik Waisak 11.24.39 di Candi Mendut pun telah selesai. Ritual selanjutnya ialah prosesi dari Candi Mendut ke Candi Borobudur, sekitar 2,5 jam para Bikhu dan Bikhuni serta peserta lainnya berjalan kaki.

Kemudian sekitar jam 18.00 kami kembali berjuang diantara padatnya wisatawan yang ingin masuk ke kawasan Candi Borobudur. Tidak adanya garis pembatas antrian membuat para wisatawan yang mengantri tidak kondusif. Sekitar 45 menit kemudian barulah kami berhasil masuk di kawasan Candi Borobudur.

vaisak2

Anehnya, tidak ada pemeriksiaan kartu peserta oleh pihak keamanan terkait. Jikalau begitu apa gunanya kartu peserta ini? Padahal prosedur pengurusan kartu ini tidaklah mudah.

Memasuki areal Candi Borobudur, banjiran wisatawan lokal maupun asing lebih gila lagi, ruameeeee buanget, kebanyakan anak muda, mungkin ini efek bertepatan pula dengan malam minggu. Banyak dari teman-teman yang sudah pasrah untuk melihat lampion di sekitar area Museum Borobudur saja. Namun, saya beserta 3 teman lainnya tetap penasaran untuk melihat prosesi perayaan Waisak lebih dekat lagi.

Benar saja, desakan para wisatawan semakin hebat terasa, ditambah lagi rintikan hujan yang terus mengalir. Sekitar 1 jam lebih kami berdesakan seraya nonton konser Noah. Sekitar jam 20.00 hujan menjadi deras, keramaian para wisatawan pun semakin menjadi-jadi. Ditambah lagi ngaretnya Acara Ceremonial yang seharusnya jam 19.00 menjadi sekitar 20.00, hal ini disebabkan keterlambatan Sang Menteri Agama, Suryadarma Ali. Serentak para wisatawan pun menyeruhkan kebosanannya dengan suara ramai.

Akhirnya Sang Menteri pun tiba, Acara Ceremonial pun dimulai dengan sambutannya kemudian diikuti oleh Bapak Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo. Suasana kembali bising dari wisatawan saat Bapak Gubernur menyampaikan sambutannya yang diakhiri dengan kalimat persuasif untuk memilih Beliau kembali di Pilgub Jateng esok harinya. Sungguh sangat-sangat ironis melihat promosi politik disaat Perayaan Waisak ini.

Melihat antrian yang tidak mengelakan lagi, ditambah kaki yang pegal-pegal mengurungkan niat kami untuk menunggu lebih lama. Kami pun akhirnya menyerah dan bergabung dengan teman lainnya yang berada di kawasan museum.

Mengutip tweet dari teman saya, Khusnul Bayu Aji “mungkin hujan malam ini turun deras agar orang-orang yang beribadah menyembah Tuhannya tidak dijadikan tontonan seperti sapi-sapi karapan” Tweet ini seolah menusuk tajam para wisatawan Perayaan Waisak di Candi Borobudur. Benar saja, sampai pukul 12.oo malam hujan masih mengguyuri Kota Magelang.

Kekecewaan para wisatawan pun semakin sempurna dengan dibatalkannya penerbangan 1.000 lampion. Sebaliknya, hanya bekas-bekas botol minum kemasan, tissue, dan sampah lainnya membanjiri kawasan Candi Borobudur. Ini adalah pertanda keras mengenai keanehan Perayaan Waisak.

Sebenarnya kesalahan penuh tidak etis bila ditempatkan kepada pihak wisatawan, pertama, mereka datang karna mendapat informasi, yang kebetulan tahun ini informasi mengenai Perayaan Waisak di Borobudur sangat CETAAAAR. Tidak heran jikalau tahun ini wisatawan yang hadir adalah yang terbanyak. Ditambah lagi, tidak adanya penyuluhan tourist behaviour sebelumnya dari pihak manapun.

Kedua, tidak adanya pembatasan wisatawan oleh pihak panitia Walubi sendiri maupun Manajemen Candi Mendut dan Borobudur. Ketiga, ada komersialisasi kartu peserta waisak oleh travel agent(s) dengan pihak yang bersangkutan. FYI, ada teman saya yang membayar Rp 175.000,- dalam tour Perayaan Waisak ini.

Ketiga hal tersebut hanyalah point-point evaluasi agar Perayaan Waisak kedepannya lebih baik lagi. Bahkan, saya setuju jikalau perayaan waisak tertutup bagi khalayak umum. Cukup sudah komersialisasi berbasis Pesta 1.000 lampion ini, menutup dari kutupan Ary Amhir, “Tapi hendaknya dikomersilkan pun masih menghormati hak-hak umat beragama yang bersangkutan. Ah, ini hanya renungan”

Apapun itu, Selamat merayakan Waisak bagi seluruh Umat Buddha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s