Tanya kenapa (?)

Kata “kenapa” pasti selalu dipasangkan dengan tanda ini “?” sehingga terkesan sangat memaksa untuk dijawab. kata ini bagaikan “si upil” (agak jelek memang perumpamaannya), coba bayangkan saat kalian asik ngupil, dunia serasa milik sendiri, gak ada yang boleng ganggu. kemudian bayangkan lebih dalam lagi…………. lalu tidur…… #kriiiiiiiiikk
       bayangkan lebih dalam lagi kalau upil di hidung anda ada yang belum tersapu atau terjangkau oleh jempol kalian (untuk yang ngupil pake jempol), pasti kita tidak akan menyerah, kita pasti akan mengerahkan seluruh kekuatan jemari atau bahkan jemari teman kita atau pacar atau papa mama mungkin untuk mengeluarkan si upil ini.

        pada intinya kita akan berusaha mengeluarkan si upil tersebut bagaimanapun caranya. kisah “si upil” tadi sama artinya dengan kata “kenapa”, kata kenapa maksud gw disini adalah kata kenapa yang menyatakan keluhan atau bersungut-sungut dalam menjalani hidup. pasti dipikiran tiap manusia banyak tumbuh kata kenapa yang selalu membuatnya penasaran untuk mengetahui.

        Sehingga kita lebih fokos mencari tahu si kenapa ini, padahal menurut gw kata kenapa itu gak harus selalu kita ketahui jawabannya.
coba jawab pertanyaan ini (dalam hati aja yaaa):
1.kenapa burung bisa terbang?
—-> pasti jawabnya (karna punya sayap)
kalau benar itu jawabnnya, maka…
2. kenapa Ayam gak bisa terbang padahal dia punya sayap?
—-> pasti jawabnya (ehm……… eh……….)
       
        Ngeselin kan pertanyaannya, buat pertanyaan no.2 mungkin kalian akan jawab TAAAAAKDIR!!, ribet kan? kalo gw sih gak akan jawab, karna ga ada untungnya juga kalo gw tahu tentang hal tersebut. begitu pula dengan si kenapa ini terkadang kita memang harus diam dan melupan untuk menjawabnya.
seperti tertulis dalam Yesaya 55:8-9  “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalan-Mu bukanlah jalanku. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” dahsyaaaaaaaaaaaaat banget kan ayat ini, disini Tuhan bilang jikalau dibalik segalah bentuk pertanyaan di hati dan pikiran manusia ada rancangan-Nya. dan gw yakin rancangan itu indah.
      

Balik lagi ke kisah si upil tadi, sebenarnya upil yang kecil, yang gak bisa terjangkau oleh jemari lu, teman, pacar, mama papa, atau siapapun itu, sama dengan kisah si kenapa juga, coba lu bayangkan (lagi) kalau kita menghiraukan upil yang kecil itu, anggap tidak ada apa-apa, kita pasti bisa nyaman juga kok. dan pada akhirnya atau saatnya tiba (saat kita selesai mandi) upil tersebut pasti akan hilang.

Jadi terbukti kan kalau si kenapa itu gak harus diketahui jawabannya, hehehe……

 

31 Maret 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s