Tuti Koto: A Brave Women, Perjalanan Seorang Ibu dalam Menuntut Keadilan

tuti-koko

Mami Tuti dan kedua Cucunya (Sumber: http://indonesiamatters.com)

Yani Afri

Yani Afri adalah salah satu nama dari tiga belas aktivis yang hilang di tahun 1997 dan belum ditemukan hingga sekarang. Ia berasal dari keluarga yang sederhana, sehari-hari ia bekerja sebagai supir angkot. Yani sebenarnya tidak begitu aktif dalam pergerakan kasus-kasus pembelaan HAM seperti Talangsari dan Tanjung Priok. Yani hanyalah simpatisan PDI yang pro terhadap Megawati. Sampai akhirnya pada tanggal 26 April 1997, Yani Asri yang terakhir kali terlihat di Kelapa Gading, Tanjung Priok bersama Sony tidak diketahui keberadaannya.

Tuti Koto

Usianya sudah lanjut pada saat itu, sekitar 60 tahun. Tuti Koto atau akrab disapa dengan sebutan Mami Tuti adalah ibu dari ‘Rian’ atau Yani Afri. Mami Tuti tinggal di perkampungan yang rumahnya berdiri di atas rawa-rawa di daerah Cilincing, Jakarta Utara. Sejak suaminya meninggal, Rian menjadi tulang punggung dan harapan bagi keluarganya. Rian adalah anak yang gigih dalam bekerja. Namun harapan Mami Tuti seakan pupus saat mendengar kabar hilangnya Rian, anak kebanggaannya.

Perjalanan Mami Tuti

Di awal film jelas terlihat sekali kegelisahan yang tengah dirasakan oleh Mami Tuti saat pertama mengetahui kabar bahwa anaknya telah hilang. Tiga hari menjelang Pemilihan Umum tahun 1997, Rian, berada di tengah kondisi politik yang sedang memanas antara warga sipil dan pihak militer. Sejak saat itu, Mami Tuti tidak lagi bertemu dengan anak kesayangannya. Nalurinya bergerak untuk mencari tahu keberadaan Rian. Awal pencarian dimulai dari Kodim Jakarta Utara, tempat di mana Rian ditangkap, akan tetapi pihak Kodim mengatakan bahwa Rian sudah dipulangkan. Setelah itu Mami langsung melaporkan kehilangan Rian ke pihak Polisi. Tidak ada kepasrahan di benaknya, ia terus mencari dan mencari kabar anaknya.

Sampai akhirnya Mami Tuti mengadu ke YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia)  dan bertemu dengan Munir Said Thalib dan keluarga korban lainnya. Di sinilah Mami Tuti mulai bekerja sama dengan Munir untuk membuat berbagai strategi dalam mencari Rian. Mami Tuti adalah salah satu ibu dari keluarga korban lainnya yang vokal dalam menuntut kejelasan nasib 13 aktivis yang hilang. Ditemani oleh Munir pengadilan demi pengadilan serta unjuk rasa selalu Mami datangi. Tak disangka akhirnya Mama Tuti pun semakin lihai dalam berorasi, memegang megaphone hingga bernyanyi memimpin massa. Secara perlahan Mami menjadi sosok perjuangan 13 keluarga korban aktivis yang hilang.

Sepanjang film, hampir tidak terlihat goresan kelelahan dalam wajah Mami Tuti. Ia memang dikenal tidak pernah mengeluh dan sangat berani dalam setiap unjuk rasa dan pengadilan. Sering kali ia membentak, “Senang kamu, ya? Dimana anak saya!” kepada pihak militer yang menghadang. Ironis jika melihat atmosfer tiap persidangan, di dalamnya lebih banyak pihak militer dibandingkan dengan keluarga korban. Ditambah lagi dengan sorak-sorak “KOMANDO!! KOMANDO!!” yang diserukan oleh pihak militer semakin menekan keluarga korban saat persidangan.

Kemudian saat tiba di penghujung film, Mami Tuti memperlihatkan kegelisahannya yang mendalam. Ia sebenarnya sudah memiliki firasat bahwa anaknya sudah tidak ada lagi, akan tetapi ia hanya butuh kepastian untuk mengetahuinya. Mungkin dengan kejelasan kabar tersebut Mami Tuti akan lebih kuat dalam menghadapi hidupnya ke depan, pikirnya. Namun sebelum ada kepastian yang jelas dari pihak pemerintah, Mami tetap kekeh memperjuangkan haknya. Sampai akhirnya Mami Tuti berperan aktif dalam organisasi KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) ke Komnas HAM, Kejaksaan Agung, DPR, hingga Presiden untuk mencari sebuah keadilan.

Tuti Koto: A Brave Women | Tahun: 1999 | Jenis: Dokumenter Durasi: 21 menit | Sutradara: Riri Riza

 

Sumber:

Screening Film Pekan Merawat Ingatan dan Diskusi di Kinosaurus Jakarta

http://indoprogress.com/2012/11/mami-koto/

http://www.rappler.com/indonesia/104187-menolak-lupa-13-aktivis-1998-hilang

http://mugiyanto.blogspot.co.id/2012_12_01_archive.html

http://nasional.kompas.com/read/2010/09/27/21090127/polisi.tangkap.pendemo.di.depan.istana

 

 

 

XXI Short Film Festival 2016 #Review

xxi-short-film-festival-2016-poster-70x100release-01Ajang film pendek Indonesia terbesar dan juga berkualitas telah hadir kembali menyapa penonton. Di tahun ke-4 ini, terdapat 8 film pendek berbagai genre yang sudah bisa kalian tonton sejak Kamis (14/4) lalu. Akan tetapi, jatah layar yang disediakan oleh eksibitor XXI sangat minim, di Jakarta saja hanya ada di TIM XXI dan itu pun hanya ada 2 shows 😦 sedih sangeut. Ya, mau gimana lagi, belum banyak penonton yang memiliki kesadaran atau mencoba untuk menonton film alternatif lokal. Duh!

XXI Short Film Festival 2016 lebih variatif dibandingkan dengan yang tahun lalu. Pada awal film kalian akan diantar dengan Pancasonya (sutradara: Muhammad Ihsan Fadli, Jakarta). film ini memiliki sinematografi dan efek visual yang indah dengan latar waktu tahun 1965. Film ini memiliki emosi yang kuat untuk kita memahami bagaimana pentingnya keikhlasan dibandingkan dengan membalas rasa dendam. Aktor utama dalam film pendek ini berhasil menyampaikan pesan tersebut dengan baik.

Selanjutnya ialah Nilep (sutradara: Wahyu Agung Prasetyo, Yogyakarta), film ini sungguh menyenangkan dan menghibur. Film ini bercerita tentang tingkah polos keempat anak-anak dan perdebatan yang jenaka tentang pengambilan keputusan mengakui kesalahan atau lari dari permasalahan. Perdebatan yang sengit namun polos gaya “anak-anak jawa” menjadi senjata pada film ini untuk dapat dinikmati. KAPUR ADE (sutradara: Firman Widyasmara, Jakarta) satu-satunya film animasi ini sebenarnya tidak terlalu bisa saya nikmati.

KESAN PERTAMA (sutradara: M. Iskandar Tri Gunawan, Yogyakarta), saya sangat suka film dokumenter, apapun itu. Kesan Pertama adalah salah satu film pendek dokumenter terbaik yang pernah saya lihat. Film ini mampu memberikan informasi mengenai apa itu jamu cekok  dan juga manfaatnya yang pada saat ini mungkin tidak banyak diketahui masyarakat, khususnya di kota-kota besar. Melalui keluarga muda yang kedua anaknya memiliki permasalahan pada nafsu makan yang sedikit film ini memberikan alternatif bagi orangtua-orangtua lainnya untuk mencoba pengobatan tradisional jamu cekok sebagai cara untuk mengembalikan nafsu makan anaknya.

SUGIH (sutradara: Makbul Mubarak, Jakarta) adalah film yang nyeleneh yang sampai sekarang saya tidak tahu apakah ritual tersebut adalah mitos yang ada di masyarakat atau memang hanya cerita fiksi.  Kemudian SANDEKALA (sutradara: Amriy Ramadhan, Jakarta) yang dari segi sinematografi, musik, dan scorring digarap dengan apik. Cerita tentang budaya ‘waktu maghrib’ juga sangat relevan dengan keadaan sebagian masyarakat Indonesia. Lalu SEMALAM ANAK KITA PULANG (sutradara: Adi Marsono, Yogyakarta) sungguh memukau dan membuat saya berpikir bagaimana caranya mengarahkan aktor nenek tua untuk berakting senatural itu. Film ini sangat menyentuh dan menyadarkan kita tentang rasa kehilangan yang biasanya dirasakan oleh seorang manula yang tanpa sadar kita sering mengacuhkannya.

BIBI SITI SWITI (sutradara: Cynthia Natalia, Jakarta), ini dia film dokumenter tebaik dalam XXI Short Film Festival 2016. I LOVE THIS MOVIE SO MUCH! SITI YOU ARE ROCK! Ini adalah bagian favorit saya dalam film ini. Kisah hidup Bibi Siti Switi (atau seorang pembantu alay, norak, kampungan, apapun hinaan kalian untuk itu) memberikan perspektif yang baru untuk dilihat dan coba untuk dipahami. Komedi yang apa adanya dalam film ini akan membuat kalian tertawa terbahak-bahak bahkan mungkin hingga menangis. Sosok Siti yang selama ini mungkin sering ‘hanya numpang lewat’ dan tidak membuat banyak orang penasaran, padahal pemikiran-pemikiran dan prinsip yang dipegang Siti dapat menginspirasi banyak orang. Siti adalah sosok yang mandiri, realistis, bebas (MENJUNJUNG LIBERAL, BRO!), dan apa adanya dalam menjalani hidup. Oh, Siti, I can wait to your sequel movie if its heppen 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

The Most Inspiring Man

Joko Anwar is such a smart man who can encourages me to think in different perspective. I knew him from twitterland in 2012, and since that I followed his twitter until now. I love everything and stuff on his feature movies or short movies. Joni’s Promise, Dead Time, The Forbidden Door, The Ritual, Durable Love, Suncatchers, Grave Torture, Fresh to Move On, and the latest movie A Copy of My Mind are my favorite movies. I can even repeat to watching Joni’s Promise more 10 times, and its still hilarious.

Joko Anwar is not only my favorite director, but he is my hero too. Ya, I know this started freaking out. I love this man because he has a truly kindness. Everytime I see his posted on twitter to inform current issues and bring his opinion into it, I agreed. Honestly, I always checking his twitter almost everyday. Hahaha.. not only that, because of him I know others good people like Nia Dinata, Aimee Saras, Lucky Kuswandi, Hannah Al Rashid, Tara Basro, Karina Salim, etc. Joko Anwar also influencing my music by his favorites musician like Sore Band, The Adams, The Spouse, Rooftopsound Record, Elvis Castello, etc. Wow!

That’s the main reason why I love Joko Anwar. To all you my friends, I highly recommending you to know him too. If you don’t like him, it’s really not problem. But, I swear you must be love his personalities and his masterpieces.

Grup Watsap Kelas

GRUP-WASekitar bulan Maret lalu kelas gue memiliki grup chatting di aplikasi WhatsApp. Ide ini dimotori oleh Kunto sang pembuat akun grup. Sebenarnya sebelum adanya grup ini kami sudah terbiasa aktif di grup Facebook angkatan. Mungkin karna kurang praktis maka grup ini akhirnya hadir. Kami membahas berbagai macam topik mulai dari hal yang penting >>> tidak penting >>> tidak serius >>>  hingga pada hal….. yang sangat tidak berguna.

Contoh hal-hal yang penting hingga tidak penting/tidak berguna: Bertanya mengenai jadwal kuliah, lokasi ruang kelas, jadwal kelas pengganti, lokasi ruang kelas pengganti, jadwal UTS/UAS, deadline tugas, memberikan berbagai informasi terkait tugas-tugas, bertanya apakah sudah ada dosen atau belum, meminta nomor telepon dosen, bertanya mengenai jumlah mahasiswa yang sudah ada di kelas, memfoto teman atau/dan dosen saat di kelas, membuat aneka meme mulai dari yang lucu banget>lucu>hampir lucu>sedikit lagi lucu>sumpah sedikit lagiiiii pasti lucu>biasa>hingga garing atau jayus.

Selama kurang lebih 3 bulan grup watsap ini berdiri, gue dapat membuat 8 klasifikasi mengenai jenis foto/gambar yang diupload oleh teman-teman sekelas di grup jahanam ini. (DAN BODOHNYA LAGI, KENAPA GUE KEPIKIRAN UNTUK MENGKLASIFIKASIKAN HAL KAMPRET SEMACAM INI!!) Berikut klasifikasi yang gue maksud:

1. FOTO ALAY MASA LALU

Foto-foto ini sangat cetar membahana pada bulan pertama grup kampret ini dibuat. Makhluk-makhluk yang sudih meluangkan waktunya untuk hunting foto-foto antara lain; Gayuh, Yasir, Adit, Kunto, Rosyid, Gilang, Gue, dan beberapa makhluk malang lainnya. Foto-foto ini secara tidak sengaja membenarkan “Teori Alay” Radityadika mengenai siklus hidup manusia Indonesia yang dimulai dari bayi>anak-anak>remaja>alay>dewasa.

Foto-foto ini banyak bertebaran di Facebook pada tahun 2011 kebawah, dengan gigih dan teliti kami mencari foto-foto dari satu akun ke akun yang lainnya. Setelah itu, dengan kreatifitas tingkat tinggi kami mengedit foto-foto tersebut menjadi bentuk-bentuk seperti yang dibawah ini. Kami memang kreatif!!

wa2

2. SAAT BERADA DI KAMPUS

Setelah kami kehabisan stok foto alay masa lalu, tiba-tiba secara spontan kami memiliki trend foto yang baru dan berbeda. Foto-foto tersebut merupakan jepretan foto on the spot di kawasan kampus seperti, ruang kelas, kantin, koridor, hingga ruangan audit. Biasanya foto ini diambil dengan menggunakan teknik hidden camera atau candid cam, lalu selang beberapa detik menit foto-foto ini pun sudah muncul di grup watsap kreatif ini.

wa6

3. HOROR

Foto-foto ini biasanya bergentayangan pada tengah malam disaat sebagian besar manusia sudah terlelap dengan mimpinya. Saat pertama-tama jenis foto ini muncul, ada beberapa teman yang merasa risih dan terganggu dengan foto ini, khususnya bagi kaum hawa yang rentan dengan hal-hal berbau mistis.

wa4

4. ANEKA MEME BERBAU POLITIK

wa3

5. FYI

Akhirnya ada jenis foto yang bermanfaat juga…. (sujud syukur….)

Poster-poster seperti seminar, lomba-lomba, info beasiswa,  acara musik, festival, lowongan part-time, hingga tata cara mengurus kartu pemilu. Setidaknya ada satu hal yang berguna dan bermanfaat di grup watsap ini 🙂

wa8

6. EDISI SPESIAL UNTUK MABA

wa10

7. ANEKA MEME MENGHIBUR

wa7

8. EDITAN MAUT & KREATIF

Foto-foto dibawah ini diedit dengan penuh kesungguhan hati dan imajinasi yang tak terbatas. Gue suka ngakak liat kreatifitas temen-temen dalam mengedit foto-foto semacam ini. Gue rasa ini sebuah bakat yang harus terus diasah.

wa5

 

Gue gak ngerti kenapa gue mau dan bisa menulis hal semacam ini. Tapi dari segala kekurang dan kelebihan (Ehm…. ini grup menurut kalian ada kelebihannya gak?) dari grup ini, sedikit-banyak memberikan sensasi tersendiri. Harapan gue ke depannya, semoga grup ini tetap eksis sampai lulus bahkan sampai kakek-nenek (Kebayang gak tuh rasanya bakal kaya apa….), dan tetap memberikan hiburan tersendiri bagi para penghuni di dalamnya. Amin 😀

 

“Antara kreatif dengan gak ada kerjaan ternyata sulit dibedakan” – Nelson Simbolon

Something Beautiful

I know a new good song, I know it from the clergyman when I went to church yesterday. He teached a song to sing to everyone, but just reff part. That song not familiar, maybe almost everyone doesn’t or never know this song before. But, He still teached. That was hillarious. And He sang this song…. oh his voice really nice to heard, apparently.

I like that song too. I love its lyric, so deep and so touched. Short story, He successful to lead everyone sing this song. Now, we are know this song and  know how to sing it hehehe…. Thanks sir, sorry I forgot His name. Hmm…. loss short memory. So, here we go sing this song!

Something beautiful, something good
All my confusion He understood
All I had to offer Him was brokenness and strife
But he made something beautiful of my life
If there ever were dreams
That were lofty and noble
They were my dreams at the start
And hope for life’s best were the hopes
That I harbor down deep in my heart
But my dreams turned to ashes
And my castles all crumbled, my fortune turned to loss
So I wrapped it all in the rags of life
And laid it at the cross.
Something beautiful, something good
All my confusion He understood
All I had to offer Him was brokenness and strife
But he made something beautiful of my lifeIf there ever were dreams
That were lofty and noble
They were my dreams at the start
And hope for life’s best were the hopes
That I harbor down deep in my heart
But my dreams turned to ashes
And my castles all crumbled, my fortune turned to loss
So I wrapped it all in the rags of life
And laid it at the cross.

Lyrics powered by LyricFind
written by LOWRY, MARK / GREENE, BUDDY
Lyrics © Warner/Chappell Music, Inc., EMI Music Publishing
Send “Something Beautiful” Ringtone to your Mobile

Read more at http://www.lyrics.com/something-beautiful-lyrics-bill-gaither.html#HOouFUuHgfDEMHib.99

Something beautiful, something good
All my confusion He understood
All I had to offer Him was brokenness and strife
But he made something beautiful of my lifeIf there ever were dreams
That were lofty and noble
They were my dreams at the start
And hope for life’s best were the hopes
That I harbor down deep in my heart
But my dreams turned to ashes
And my castles all crumbled, my fortune turned to loss
So I wrapped it all in the rags of life
And laid it at the cross.

Lyrics powered by LyricFind
written by LOWRY, MARK / GREENE, BUDDY
Lyrics © Warner/Chappell Music, Inc., EMI Music Publishing
Send “Something Beautiful” Ringtone to your Mobile

Read more at http://www.lyrics.com/something-beautiful-lyrics-bill-gaither.html#HOouFUuHgfDEMHib.99

 
 

Mata Najwa, Anies Baswedan, dan Berusaha

Selamat malam pemirsa, berjumpa lagi dengan saya Nelson Simbolon selaku tuan rumah laenelson(dot)wordpress(dot)com. #EdisiMataNajwa

Hari ini adalah salah satu hari bersejarah bagi seorang Nelson Simbolon. Mohon dicatet ya (Oke, kalau kalian gak punya pulpen atau pensil gak usah dipaksa, gue bisa maklumin kok). Hal ini dikarnakan tadi siang (25/4) gue berhasil nonton Mata Najwa secara LIVE di Grha Sabha Pramana (GSP). Penulisan kata LIVE sengaja dipertebal dikarnakan tidak semua orang, khususnya di Jogja bisa masuk ke GSP untuk nonton acara ini. Gue termasuk seseorang yang beruntung tersebut. #IniTidakBerlebihan

Mata Najwa

matanajwa2Berikut beberapa indikator yang membuat gue bersyukur bisa nonton Mata Najwa secara live:

  • Gue memang penggemar acara Mata Najwa beserta @NajwaShihab nya,
  • Hari selasa malam (15/4), saat itu posisi gue lagi di FIB ada seorang teman yang mengingatkan untuk daftar peserta Mata Najwa on Campus,
  • Salah satu nasumnya itu Anies Baswedan,
  • Total kursi peserta yang disediakan panitia sekitar 6 rebu lebih tapi yang mendaftar mencapai 31 rebu manusia,
  • Gak semua orang yang udah nyampe GSP bisa masuk buat nonton, bahkan ada seorang anak SMP kepalanya tergores karna berdesak-desakan (Si anak tersebut langsung dibawa ke mobil ambulance tapi setelah itu tetap lanjut nonton Mata Najwa) WOW!!!,
  • Dapet snack dan note book gratisssssss,
  •  Belajar banyak dari Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Sri Sultan HB X, Chairul Tanjung, Mahfud MD, Najwa Shihab, Butet Kartarajasa, dan Neo si anak Teknik UGM yang menginspirasi banyak penonton,
  • Bisa ketemu Mas Anies Baswedan, foto namun tidak selfie, dan dapet tanda tangan Beliau.

matanajwa1

Anies Baswedan

Bertemu-Anies-BaswedanDengan ilmu potosop a la kadarnya, jadilah 2 wajah yang paling bersinar di antara kerumunan. (Maap ya buat yang muka-mukanya ke-blur, kalian harus ngertiin gue #EgoisSikit)

Gak ada alasan untuk tidak kagum dengan sosok Beliau. Cerdas, natural, retorika terindah yang pernah gue tahu, peduli, tenang dan santai, berani, rendah hati, visioner, dan yang pasti Beliau adalah orang baik.

Gue baru tahu beliau sejak tahun 2012 lalu, saat menemukan buku Gerakan Indonesia Mengajar 2 di bagian recommended books. Namun amat disayangkan pada saat itu harga buku ini masih Rp 85.000,- tidak berjodoh dengan yang ada di dompet. Alhasil beberapa minggu lalu, tak sengaja gue melihat buku ini lagi, dan kebetulan juga baru awal bulan (red: dompet masih tebel).

Bagi kalian yang tertarik untuk mengenal Anies Baswedan lebih dalam, gue menganjurkan untuk membaca buku Biografi Anies Baswedan: Melunasi Janji Kemerdekaan, penulis Muhammad Husnil. Buku ini menceritakan kehidupan Beliau dari cerita Sang Kakek, Sang Ayah dan keluarganya, kehidupan masa kecil sampai kuliah, dan awal karir Anies Baswedan hingga sekarang.

abini bukunya.

Saya yakin Beliau akan menjadi Presiden RI pada tahun 2019. Tetap keren ya, Mas!

Berusaha

Semua ‘orang sukses’ yang kalo ditanya mengenai  cara atau kiat-kiat atau jurus atau apapun itu yang membuat mereka bisa sukses pasti salah satu jawaban yang terucap gini: Kerja keras, Bersungguh-sungguh, atau berusaha keras. Sialnya, tidak akan ada satu ‘orang sukses’ yang menjawab: bermalas-malas ria. Kenyataannya memang seperti itu.

Dan hari ini gue belajar mengenai hal itu.

Saat nonton Mata Najwa tadi ada satu peserta laki-laki yang duduk di bagian belakang, sekitar 10-15 meter satu baris dari tempat duduk gue. Sejak awal dibuka sesi tanya-jawab, Mbak Najwa turun ke bawah panggung untuk mencari penanya-penanya lebih dekat.

Pria tersebut berdiri melambaikan tangan dan berteriak “Huuuuuuuuuuuh” berharap akan ditunjuk. Kemudian Mbak Najwa mendapatkan 1 hingga 2 penanya…. mata Mbak Najwa belum menengok ke arah pria tersebut.

Tingkat kehebohan laki-laki ini agar mengundang perhatian Mbak Najwa pun semakin meningkat dan meningkat. Dia loncat-loncat kemudian naik ke kursi, dan melambaikan tangannya lebih cepat sembari teriak…. maap gue gak begitu inget, intinya pria ini heboh sekali saat itu.

Seiring tingkat kehebohannya yang semakin menjadi-jadi, akhirnya mengundang perhatiaan orang banyak yang duduk di sekitarnya. Ada beberapa sindiran yang tidak suka dengan reaksi pria tersebut, ada yang mengatakan, “Apaan sih, lebay banget”, “Yaelah lebay amat”, dan sindiran-sindiran lainnya. Pria ini bukannya malu tapi tetap konsisten untuk meningkatkan frekuensi kehebohannya.

Singkat cerita saat Mbak Najwa sudah mendapatkan penanya ke-4nya, dan kemudian naik ke atas panggung kembali untuk meminta para narasumber menjawab pertanyaan tersebut. Saat Mbak Najwa sudah di atas panggung, pria ini semakin histeris tidak putus asa berharap masih akan ditunjuk. Kehisterisan tersebut semakin mengundang banyak orang memperhatikan ke arahnya. Kemudian, banyak orang-orang yang mungkin kasihan atau justru mengapresiasi, kemudian berteriak kepada Mbak Najwa untuk melihat ke arah pria ini.

Dan akhirnya……. usaha pria ini berbuah manis. Mbak Najwa melihat ke arahnya dan kemudian menunjuknya sebagai penanya tambahan. Sontak kegirangan pun terlihat jelas dari wajahnya dan  mengangkat-angkat kedua tangannya seolah ia sedang selebrasi. Spesial untuk pria satu ini, Mbak Najwa mengajaknya untuk bertanya di atas panggung. Itu berarti dia adalah satu-satunya peserta yang bertanya di atas panggung, dekat dengan kelima narasumber. WOW!!!

Pria tersebut bernama Neo, berasal dari jurusan Teknik Mesin UGM. Saya ingat betul kalimat pertama yang diucapnya sebab itu sangat lucu sekali. Ia bilang, “Maaf ya, tadi sedikit autis” sontak semua orang tertawa mendengarnya. Kemudian pertanyaan-pertanyaan dari Neo juga sangat sangat tidak mengecewakan, melainkan sangat luar biasa cerdas tapi tetap lucu. Anda penasaran? Saksikan Mata Najwa “Dari Jogja untuk Bangsa” pada hari Rabu (30/4) pukul 20.05 di metroTV. Semoga bagian si Neo ini tidak diedit ya teman-teman. Amin.

Gue belajar banget dari usaha keras dan konsistennya si Neo teriak-teriak untuk dilihat Mbak Najwa walaupun posisi duduknya berada di bagian belakang. Hal tersebutlah yang akhirnya mempengaruhi gue dalam mendapatkan tanda tangan Mas Anies Baswedan.

Saat acara sudah selesai gue, cikitta, dan Ade memang tidak ingin langsung keluar karna memang males untuk berdesak-desakan. Kami lebih memilih menunggu. Sejak tadi pagi gue memang sengaja membawa buku Indonesia Mengajar 2 dengan tujuan mungkin ada kesempatan beretemu Mas Anies lalu meminta tanda tangannya. Namun harapan tersebut sebenarnya hanyalah sebuah harapan ‘mungkin’.

Singkat cerita, setelah Mbak Najwa menutup acaranya, semua narasumber kecuali Anies Baswedan pergi menuju backstage. Dan dengan baik hatinya Mas Anies menyalami para penonton bahkan banyak orang yang berfoto selfie dengan Beliau. KAMFRET!!! MASIH SEMPET-SEMPETNYA DI TENGAH KERUMUNAN BELA-BELAIN FOTO SELFIE.

Melihat kerumunan manusia-manusia mengelilingi Beliau, gadis maha tangguh Cikitta, mendorong gue untuk maju ke stage menghampiri Beliau. Tujuan awal kami sebenarnya adalah hanya sekedar memfoto Beliau dari jarak yang cukup dekat. Akhirnya kita berdua maju, dengan langkah yang masih biasa saja. Sampai akhirnya tiba-tiba langkah gue menjadi cepat dan sangat cepat untuk ukuran seseorang yang sedang menyelap-nyelip dikerumunan orang banyak.

Dan percaya tidak percaya, waktu yang kami butuhkan dari tempat awal sampai di sebelah Anies Baswedan dapat dikatakan sangat cepat. Dengan mudahnya kami menyelip lincah dari satu sela ke sela yang lain. That was amazing nyelap-nyelip ever!! Sampai akhirnya, impian mendapatkan tanda tangan Anies Baswedan pun tercapai. Terimakasih Cikitta dan Neo!!

ttdTanda tangan itu…. *kemudian menangis*

BONUS

Barometer-kebahagiaanIya gue tahu, di foto ke-5 senyum gue senyum pepsoden banget